Program Jaringan Kerjasama Masjid

Salah satu yang harus kita dambakan sebagai umat Islam adalah terwujudnya masjid yang makmur secara ideal. Manakala masjid telah makmur, maka kaum muslimin akan memperoleh pembinaan dengan baik sehingga akan dihasilkan umat yang baik. Karena itu, Rasulullah Saw memberikan perhatian yang begitu besar kepada masjid, tidak hanya pada aspek fisik bangunannya, tapi juga pada pemakmurannya. Namun kita bisa merasakan bahwa mewujudkan masjid yang makmur ternyata bukanlah urusan yang mudah, kata orang “tidak semudah membalikkan telapan tangan”.

Apalagi terbukti bahwa jumlah masjid dan mushalla di negeri kita yang tidak kurang dari 700.000 buah umumnya belum menunjukkan kemakmuran sebagaimana mestinya, bahkan banyak sekali diantara masjid-masjid kita yang cenderung memprihatinkan kondisinya, baik dari segi kepengurusan, program, partisipasi jamaah, fasilitas, fisik, dana, administrasi hingga khatib dan muballigh.

Oleh karena itu, menjadi sangat penting bagi masjid-masjid untuk menjalin kerjasama yang baik melalui sebuah jaringan kerjasama masjid yang dikembangkan dalam kerangka tolong menolong dalam kebaikan dan taqwa, bukan dalam kerangka dosa dan permusuhan (QS 5:2). Paling kurang, ada lima bidang kemasjidan yang bisa dikerjasamakan melalui jaringan kerjasama masjid dan ini bisa menjadi program bersama yang amat penting untuk dikembangkan.

1.    TUKAR MENUKAR INFORMASI

Saling bertukar informasi antara pengurus masjid yang satu dengan lainnya merupakan sesuatu yang sangat penting. Dengan adanya informasi yang positif dari masjid lain, kita bisa merasakan bahwa masjid kita yang sudah menunjukkan kemakmuran ternyata belum semakmur masjid lain, sementara bila kita memperoleh informasi negatif dari masjid lain, justeru kita harus mewaspadai agar jangan sampai hal-hal yang negatif itu terjadi pada masjid kita.

Manakala saling tukar informasi bisa kita lakukan, tentu masing-masing kita ingin menunjukkan kondisi masjid yang seideal mungkin dari berbagai sisinya, hal ini sekaligus bisa memacu dan memotivasi pengurus masjid untuk meningkatkan pemakmuran masjid yang dikelolanya.

2.    KERJASAMA PROGRAM

Salah satu indikasi masjid yang ideal adalah mampu menyelenggarakan berbagai program yang dirasakan besar manfaatnya oleh jamaah dan memang amat dibutuhkan. Namun ternyata tidak semua program bisa dikerjakan oleh pengurus masjid dengan jamaahnya yang ada, hal ini karena daya dukung atau potensi pengurus dan jamaah yang kurang. Karena itu diperlukan kerjasama pelaksanaan program, baik dari sisi penyelenggaraan maupun keikutsertaan jamaah. Diantara program yang perlu dikerjasamakan antar masjid antara lain; Pertama, pelatihan, hal ini diselenggarakan dalam rangka menumbuhkan dan meningkatkan potensi sumber daya manusia untuk memakmurkan masjid, pelatihan tersebut misalnya manajemen masjid, imam, khatib dan muballigh, mengurus jenazah, pengelolaan perpustakaan, pengelolaan Baitul Maal wat Tamwil (BMT), koperasi masjid, metode cepat mengajar baca tulis Al-Qur’an, manajemen remaja masjid, dll.

Kedua, pelayanan jamaah, hal ini diselenggarakan agar jamaah merasakan manfaat yang besar dari keberadaan masjid sehingga jamaah ada rasa memilikinya terhadap masjid, program ini misalnya penyediaan petugas mengurus jenazah, mobil ambulan, khitanan masal, santunan sosial korban bencana alam dan musibah lainnya.

Ketiga, kegiatan yang memberi wawasan dan kesadaran terhadap suatu persoalan, misalnya seminar, pesantren kilat, penyuluhan, penataran, bedah buku, dll.

3.    BANTUAN DANA

Upaya pemakmuran masjid tentu saja sangat memerlukan dana yang banyak, karena itu masing-masing masjid harus meningkatkan potensi perolehan dana dari jamaahnya, namun meskipun kesadaran berinfak dikalangan jamaah masjid sudah nampak dan usaha dana lainnya sudah dilakukan, tetap saja dana untuk keperluan masjid masih sangat kurang. Karena itu, program bantuan dana dari masjid yang kelebihan dana kepada masjid yang kekurangan dana menjadi sangat penting, dengan kata lain, masjid “kaya” harus membantu masjid “miskin”.

Bantuan dari masjid yang satu kepada masjid lain tidaklah harus selalu dalam bentuk uang, bisa juga -- bahkan mungkin lebih baik--  bila bantuan itu dalam bentuk barang-barang yang diperlukan oleh suatu masjid, misalnya bantuan komputer, buku-buku keislaman untuk perpustakaan masjid, vacum cleaner, dll. Dengan demikian bisa kita simpulkan bahwa sebenarnya masjid itu boleh punya banyak dana, tapi saldonya jangan banyak-banyak. Bila masjid punya dana banyak, segera gunakan untuk membiayai aktivitas dan bantu masjid-masjid lain sehingga nantinya jamaah masjid akan terus berinfak, mereka senang berinfak karena dana itu sangat besar kegunaannya bagi umat Islam.

4.    STUDI BANDING

Jaringan kerjasama antar masjid juga punya arti penting karena dengan demikian masjid yang satu dengan lainnya bisa saling melakukan studi banding untuk menemukan kekurangan masjid sendiri dan melihat kelebihan masjid lain untuk bisa dikembangan pada masjid masing-masing. Studi banding antara masjid yang satu dengan lainnya merupakan sesuatu yang sangat penting, penting karena pada suatu masjid mungkin saja selalu memiliki kelebihan pada satu sisi dibanding masjid lainnya, meskipun masjid itu tidak terlalu makmur dengan bangunan yang tidak terlalu besar, sedangkan pada masjid yang secara fisik sudah besar dan nampak lebih makmur tetap saja ada kekurangan-kekurangan dengan masjid yang kecil.

Meskipun demikian, studi banding tentang pemakmuran masjid tidak hanya pada masjid yang telah menjalin jaringan kerjasama, studi banding bisa dilakukan bahkan memang harus dilakukan pada banyak masjid, termasuk pada masjid-masjid yang jauh tapi memiliki kelebihan atau keunggulan dalam pemakmurannya.

5.    PENGEMBANGAN KHATIB DAN MUBALLIGH

Hal lain yang bisa dikembangkan melalui jaringan kerjasama masjid adalah peningkatan kualitas dan kuantitas khatib dan muballigh. Paling tidak, ada tiga program yang bisa dilakukan. Pertama, menyelenggarakan kursus atau pelatihan khatib dan muballigh yang pesertanya berasal dari wakil-wakil masjid. Kedua, pengembangan khatib dan muballigh yang dimiliki oleh masing-masing masjid, hal ini karena umumnya khatib-khatib yang dimiliki oleh masing-masing masjid kurang memiliki pengalaman tampil yang banyak, karena itu, dalam rangka meningkatkan kualitas khatib dan muballih, mungkin saja dikembangkan peningkatan pengalaman berkhutbah dengan pertukaran tugas antara masjid yang satu dengan lainnya, misalnya khatib masjid An Nur berkhutbah juga di masjid At Taqwa, Al Ikhlas dan sebagainya, begitu juga dengan khatib dari masjid At Taqwa dan Al Ikhlas sehingga setiap Jum’at atau sebagian besar waktu hari Jum’at sang khatib bisa tampil berkhutbah, bahkan bisa juga dikembangkan menjadi korps muballigh pada wilayah tertentu di tingkat kelurahan, kecamatan bahkan kota atau kabupaten. Ketiga, meningkatkan wawasan dan kemampuan berkhutbah dengan kegiatan ta’lim khusus bagi khatib dan muballigh yang bisa dilangsungkan dua pekanan atau sebulan sekali.

6.    PENDAYAGUNAAN SDM

Ketika masjid ingin mengembangkan berbagai aktivitas, salah satu kendala yang dihadapi adalah sangat terbatasnya potensi sumber daya manusia (SDM) yang bisa menjalankan atau menjadi daya dukung utama bagi pelaksanaan program tersebut, padahal sebenarnya masjid memiliki sumber daya manusia yang handal dari jamaahnya, meskipun belum tentu berasal dari masjid itu sendiri, tapi dari jamaah masjid lain. Karena itu, manakala ada jaringan kerjasama masjid, potensi jamaah suatu masjid bisa juga digunakan oleh masjid lain, misalnya ketika masjid At Taqwa ingin mengadakan program pelatihan pengelolaan perpustakaan masjid, masalahnya adalah tidak adanya tenaga pemandu atau pemberi materi, sementara tenaga ahli dalam masalah ini terdapat pada masjid An Nur, maka jamaah masjid An Nur yang memiliki keahlian dibidang itu bisa saja dimanfaatkan oleh masjid At Taqwa, dan begitulah pada bidang-bidang lainnya.

Dengan demikian, para pengurus masjid memang harus meningkatkan kerjasama yang seluas-luasnya agar kualitas pemakmuran masjid bisa ditingkatkan dari waktu-waktu.
Tags: , ,

LPPD Khairu Ummah

Menjadi unsur dan wadah yang melahirkan konsep pengembangan dakwah, pembinaan umat dan lembaga keumatan serta pelayanan dakwah, pendidikan dan sosial menuju kejayaan Islam dan Umatnya.

0 comments

Leave a Reply