Tanya Jawab Tentang Tidak Membaca Niat

Tanya
Sehubungan dengan tibanya Ramadan, di masjid dan mushalla sehabis shalat tarawih kadangkala jamaah dipandu membaca niat puasa dalam bahasa Arab, bagaimana bila kita tidak membaca, apakah puasanya sah?

Jawab
Rukun puasa itu ada dua, yaitu niat dan menahan diri dari segala yang membatalkan puasa seperti makan, minum dengan sengaja, keluar sperma karena rangsangan seksual, melakukan hubungan suami isteri, dan keluar darah haid atau nifas bagi wanita.

Karena itu, setiap orang yang berpuasa harus berniat puasa, namun niat itu pekerjaan hati sehingga tidak mutlak harus diucapkan. Kalau di masjid atau mushalla baca niat puasa dibimbing sama-sama, itu sifatnya hanya untuk membimbing hati dalam berniat. Jadi, tidak masalah bila tidak membaca niat puasa, yang penting hati kita sudah berniat untuk melakukan puasa.

Rasulullah saw bersabda:

مَنْ لَمْ يُجْمِعِ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِفَلاَ صِيَامَ لَهُ

Barangsiapa yang tidak membulatkan niatnya buat berpuasa sebelum fajar, maka tidak sah puasanya (HR. Ahmad dan Ash Habus Sunan dan dinyatakan sah oleh Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban).

Sebenarnya niat yang ikhlas memiliki makna yang sangat penting. Keikhlasan membuat amal yang berat akan terasa menjadi ringan, namun tanpa keikhlasan, jangan yang berat, yang ringanpun akan terasa menjadi berat.  Dalam kaitan inilah, Rasulullah saw menyatakan bahwa amal itu sangat tergantung pada niat.

Demikian jawaban dari kami, semoga bermanfaat bagi kita bersama.


Pesan Ramadan
Persiapan diri

Ramadan tahun ini insya Allah benar-benar akan kita masuki. Sebagai tanda gembira atas kedatangannya, tentu kita melakukan persiapan pribadi yang matang. Paling tidak, ada tiga persiapan yang harus kita fokuskan.

Pertama, persiapan jiwa. Hal ini karena Ramadan merupakan bulan pembersih jiwa dari sifat-sifat tercela dan dosa yang telah dilakukan. Karena itu bulan ini disebut dengan Ramadan yang berarti membakar atau mengasah. Dinamakan demikian karena pada bulan Ramadhan dosa-dosa manusia akan dibakar sebagai imbalan dari kesadaran jiwa yang terwujud dalam bentuk amal saleh yang meningkat. Bahkan disebut mengasah karena pada bulan ini jiwa kita akan diasah kembali agar memiliki ketajaman dalam membedakan antara yang haq dengan yang bathil. Dari jiwa yang bersih inilah, jiwa kita akan menjadi seperti tanah subur yang siap ditaburi dengan benih-benih kebajikan atau kebenaran.

Dalam kaitan dengan persiapan jiwa itu, sebelum bulan Ramadan yakni di bulan Syakban Rasulullah SAW banyak melakukan puasa sunat dan berdoa. Selain itu di masyarakat kita berkembang budaya saling maaf memaafkan, bahkan orangtua kita terdahulu biasa berziarah kubur menjelang Ramadan meskipun tidak harus demikian, tapi ziarah kubur membuat orang jadi ingat pada kematian dan Ramadan akan dioptimalkan untuk menjadi titik tolak beramal saleh yang banyak sebagai bekal menghadapi kematian itu.

Manakala kita telah mempersiapkan jiwa, insya Allah kita menjadi senang dengan kedatangan Ramadan sehingga senang juga menjalankan segala kewajiban yang harus dilaksanakan di bulan yang suci itu. Dengan rasa senang itu, ibadah Ramadan akan kita laksanakan dengan ringan meskipun sebenarnya berat.

Jiwa yang sudah dipersiapkan untuk memasuki Ramadan akan memiliki kesadaran bahwa ibadah Ramadan khususnya puasa tidak hanya harus dilakukan karena kewajiban, tapi juga karena kebutuhan. Karena itu, Prof DR Quraish Shihab dalam bukunya Lentera Hati menyebutkan: "Alquran ketika menetapkan kewajiban puasa tidak menegaskan bahwa kewajiban tersebut datang dari Allah, tetapi redaksi yang digunakannya dalam bentuk pasif: 'diwajibkan atas kamu berpuasa'. Agaknya redaksi tersebut sengaja dipilih untuk mengisyaratkan bahwa puasa tidak harus merupakan kewajiban yang dibebankan oleh Allah SWT, tetapi manusia itu sendiri akan mewajibkannya atas dirinya pada saat ia menyadari betapa banyak manfaat dibalik puasa itu" (Hal 173).

Persiapan Kedua untuk memasuki Ramadan adalah persiapan ilmu, hal ini karena untuk bisa menjalankan ibadah Ramadan dengan baik, persiapan ilmu juga harus dilakukan sehingga ibadah Ramadan kita laksanakan dengan tidak ada lagi keraguan di dalam hati dan pikiran. Dengan demikian, segala hal yang terkait dengan ibadah Ramadan sudah harus kita pahami dengan sebaik-baiknya, baik yang menyangkut kafiyat atau tata cara ibadah Ramadan dari segi fiqihnya, yang boleh dan yang tidak boleh kita lakukan, yang dianjurkan untuk dilakukan hingga hingga hikmah-hikmah yang terkandung di dalamnya, baik hikmah yang berkaitan dengan perbaikan jiwa dan akhlak maupun hikmah terhadap kesehatan jasmani.

Karena itu alangkah baiknya kalau buku-buku tentang ibadah Ramadan kita baca lagi, penerangan atau ceramah tentang Ramadan dilakukan sebelum bulan Ramadan tiba, termasuk penerangan tentang puasa dan kesehatan, puasa dan etos kerja dan sebagainya.

Ketiga yang menjadi persiapan ibadah Ramadan adalah persiapan fisik, hal ini karena khususnya puasa dan shalat tarawih bisa kita laksanakan dengan baik salah satunya manakala kita memiliki kondisi fisik yang sehat. Sebagaimana kita ketahui, muslim yang sakit tidak diwajibkan untuk melaksanakan puasa, tapi harus mengqadanya sesudah Ramadhan berakhir bila kondisi kesehatannya sudah kembali pulih. Karena itu, kondisi fisik yang sehat juga harus kita persiapkan, baik dengan menjaga kondisi fisik agar tetap sehat selama menunaikan ibadah Ramadhan, maupun melakukan pemeriksaan kesehatan dan mengobatinya bila terdapat penyakit yang diderita
Tags: ,

LPPD Khairu Ummah

Menjadi unsur dan wadah yang melahirkan konsep pengembangan dakwah, pembinaan umat dan lembaga keumatan serta pelayanan dakwah, pendidikan dan sosial menuju kejayaan Islam dan Umatnya.

0 comments

Leave a Reply